Sabtu, 22 Juni 2013

Efek Domino

Hello!
Yak, karena aku sedang bosan dan suntuk belajar anapersil untuk ujian pada siang ini jam 1 siang, maka aku putuskan untuk menulis sebuah pendapat tentang hal penting yang terjadi tadi malam. Kenaikan harga BBM.

Mengapa ini penting? Karena semua orang butuh BBM. Semua proses bisnis butuh BBM. Rakyat kecil ataupun rakyat besar butuh BBM. (Mungkin) tidak ada orang di dunia ini yang tidak membutuhkan BBM.
Oke, mari kita bahas. 

Mengapa (akhirnya) pemerintah menaikkan harga BBM? Karena negara sudah tidak kuat lagi untuk berutang kepada organisasi keuangan dunia untuk memberikan subsidi bahan bakar bagi seluruh rakyat Indonesia. You know lah Indonesia gedenya segede gaban. Belum lagi bentuknya yang kepulauan yang membuat transportasi menjadi terbatas. Kalaupun ada harganya mahal. Kasus kelangkaan BBM pun salah satu faktornya adalah ini : distribusi. Jauhnya dan keterbatasan jalan untuk menuju suatu tempat menyebabkan harga di beberapa wilayah Indonesia menjadi mahal melebihi harga jual aslinya. 
Wajar, ini sudah hukum ekonomi. Semakin langka suatu barang di suatu daerah maka akan semakin mahal harganya. 

Jika Pemerintah tidak menaikkan harga BBM, maka kita akan mengutang lagi dan lagi dan lagi. Perandaian saja, sebagai pribadi anda tidak suka mengutang kan? Kecuali kalau anda......... sudahlah. Yak, tidak ada orang yang hidup tenang dari mengutang. Selalui dihantui oleh rasa ingin segera cepat melunasinya. Sebagai bangsa dengan track record sebagai salah satu negara pengutang tidakkah anda merasa malu? Tidakkah anda merasa ingin membantu negara ini dari kesulitan utang yang menjeratnya? Pernahkah anda berfikir apa yang sudah negara ini perbuat untuk anda, dan apa yang sudah anda lakukan untuk negara ini? 

Dengan menaikkan harga BBM dari Rp. 4500 ke Rp. 6500 yang naik Rp. 2000, sebenarnya negara ini (masih) tetap mengutang. Cara supaya terlepas dari utang? Kesadaran diri. Masyarakat kelas menengah ke atas seharusnya lah yang sadar diri. Bukankah anda sering melihat bahwa banyak kelas menengah ke atas yang notabene mampu membeli BBM yang tidak disubsidi tapi tetap membeli BBM yang disubsidi pemerintah yang notabene itu adalah hak rakyat kecil? Jika anda membaca tulisan ini ingatkan kepada diri sendiri, teman, saudara, kerabat dan sebagainya agar menggunakan BBM yang tidak disubsidi pemerintah jika mereka mampu untuk membeli yang tidak disubsidi. 

Iya, aku tahu memang harganya lebih mahal. 1 liter BBM yang tidak disubsidi bisa membeli 2 liter BBM yang disubsidi pemerintah. Kebanyakan orang berpikiran bahwa mereka lebih senang membeli yang murah karena mendapatkan yang lebih murah dan lebih banyak. Wajar, karena ini prinsip ekonomi. Tapi tahukah kalian, bahwa sebenarnya BBM subsidi itu bukanlah jatah bagi kalian yang (merasa) mampu? Itu adalah jatah rakyat kecil. Definisi saya tentang rakyat kecil adalah seseorang yang penghasilannya sama dengan atau kurang dari UMR di suatu daerah dia tinggal. Anda tentukan sendiri definisi anda. 

Masalahnya, orang yang berteriak menolak harga BBM dinaikkan sebagian (besar) adalah perokok. Saya beni akan hal ini. Harga rokok naik mereka tidak masalah. Harga BBM naik mereka mengamuk. Daripada uang mereka untuk membeli rokok bukankah lebih baik untuk membelikan BBM? Dengan harga sebungkus rokok yang sekarang berkisar Rp. 10.000 - Rp. 15.000 bukankah mereka bisa mendapatkan 2 liter BBM dibanding sebungkus rokok? 

Negeri ini bukan dikendalikan oleh Presiden kita, tapi negara lain. Sebuah konspirasi besar dan jahat sedang mencengkeram negeri ini. Pendapat saya : negeri ini dijadikan lahan bagi penguasa dunia yang tamak dan serakah dan kemudian mereka membentuk aliansi yang saya tidak tahu namanya, yang jelas mereka adalah perampok negeri ini. Pejabat negara, orang-orang penting, beberapa ekonom negeri ini adalah mungki kaki tangan mereka dalam usaha menjadikan negeri ini sebagai mesin penghasil uang mereka. Bisnis mereka adalah negara. Mengerikan. 

Yang aku amati : Mengapa proyek monorail seperti tersendat-sendat? Padahal jika monorail dibangun dengan bagus dan berkualitas dampaknya akan banyak berguna bagi masyarakat. Setidaknya untuk warga Jakarta yang direncanakan akan dibangun Monorail. Jika monorail dibangun maka akan lebih banyak lagi warga yang bisa mobilisasi secara cepat dan efisien. Sayangnya ada beberapa pihak yang tidak senang dengan hal ini. Izin dipersulit, proposal digadang-gadang, hanya wacana yang terus dibuat. Realisasi nol besar. Tahukah kamu jika proyek Monorail ini terlaksana dan selesai dengan baik maka warga Jakarta akan beralih menggunakan transportasi umum dibanding kendaraan pribadi. Aku pribadi jika proyek Monorail ini sukses, aku akan menggunakan ini sebagai alat transportasi di Jakarta. Orang tidak perlu lagi repot bermacet ria, menghabiskan waktu, tenaga dan yang paling penting BBM. 

Ketika proyek ini mulai dicanangkan ada pihak yang tidak senang. Yak, mereka adalah perusahaan kendaraan bermotor. Jika proyek ini terealisasikan maka akan dipastikan jumlah penjualan mereka akan menurun. Aku yakin. Penjualan mereka turun keuntungan mereka akan turun. Perusahaan seperti ini tidak peduli Jakarta akan semakin macet, yang penting keuntungan mereka bertambah. Jika perusahaan kendaraan bermotor tidak laku begitupun dengan suku cadang kendaraan. Demikian juga bengkel-bengkel pinggir jalan yang tumbuh subur di negeri ini. 

Perusahaan kendaraan bermotor yang mempunyai modal yang sangat besar ini mungkin telah memaksa beberapa antek untuk mempersulit proyek pemerintah yang baik bagi masyarakat menjadi hanya sebuah wacana yang tidak jelas kapan realisasinya. Semua pihak akan langsung terkait begitu 1 hal terjadi. Inilah "Efek Domino". Efek yang tidak bisa dihindari, tapi bisa diakalin, bisa juga tidak. Tergantung bagaimana kita bersikap. Bersikap sebagai warga negara yang mau membantu negara ini atau justru malah memberatkan negara ini. 

Pilihan ada ditangan anda. Jika mau membantu maka sadar dirilah, jika tidak siap-siap saja negeri ini wasalam. Tapi selalu ada titik terang dalam sebuah kegelapan sekalipun. Apakah titik terang tersebut. Aku berani bertaruh itu adalah sikap kita. Tanpa sikap yang baik kita tidak akan bisa menjadi warga negara yang baik, dan tanpa warga negara yang baik tidak ada negara yang baik. semua dimulai dari diri sendiri. Tidak usah menoleh kesamping dan kebelakang, itu hanya akan mempengaruhi kita. Fokus saja melihat kedepan, lihat apa yang bisa kita lakukan kepada negeri ini. Jangan keburu pesismis dengan pemerintah kita yang bobrok. Yang jahat akan mendapat hukumannya, dan yang baik akan mendapat jatahnya. Semua sudah ada yang mengatur. Jadi? Introspeksi kepada diri sendiri kemudian mengarahlah kepada arah yang baik menurut anda. 

Have a great weekend!

Kamis, 20 Juni 2013

Sebuah Jalan

Hello!
Lama sudah aku tidak bersua disini. Terakhir kali aku bersua disini rambutku masih gondrong ala barbie gitu, tapi gak pirang.... Sekarang udah dipotong, jadi tambah ganteng ( kata generasi tua) , yah! sayang banget dipotong, bagusan gondrong! ( kata generasi muda) . Yah, hidup kita memang selalu aja ada yang gak setuju dengan yang kita lakukan. But, semuanya kembali lagi ke kita kan? :p

Rambut pendek enak juga sih, gak usah sampoan tiap mandi, paling juga seminggu sekali.........
Gak deng, 2 hari sekali, gak deng, tiap hari lah! Trus juga abis mandi gak usah sisiran udah ganteng, kalo dulu mah rempong. Tapi ada kekurangannya juga sih. Seperti jadi gak gampang dicari lagi, padahal kan enak kalo misalkan jalan bareng trus bikin meeting point nya dimana jadinya kan mudah ditemui, sekarang udah gak. Gak bisa lagi ngisengin temen dengan pura-pura jadi bencong dengan rambut dikuncir "Tomb Rider". asli hina banget -___-
Sudahlah, itu semua bagian dari sejarah hidup kita, kita harus bersyukur. Alhamdulillah.
Tahun depan juga udah gondrong lagi, LAH........

Banyak sekali yang sudah terjadi sejak terakhir aku bersua disini, banyak jalan-jalan juga yang belom sempet kutulis di sini, ke Jepang, Ciater, dan Sweet Escape ke 3! Pengen rasanya bercerita banyak tentang itu semua, tapi apa daya, inspirasi belum menghampiri, semoga setelah menulis postingan ini inspirasi itu datang kembali, seperti sediakala, seperti saat memulai kembali membangunkan blog ini setelah tertidur sekian lama.

Kita terkadang emang suka gak sadar bahwa kita punya banyak potensi yang bisa kita gali dalam diri kita. Akhir Maret kemaren aku ikut les Russia. Les dimana? Les sama temennya temen yang kuliah sastra Perancis. Ribet gak? Gak kan? Yah, jadi emang gak ada yang namanya kebetulan. waktu itu lagi ngumpul bareng setelah sekian lama kami tidak berkumpul, kemudian cerita macem-macem sampai akhirnya aku bertanya kepada mereka "Kalo kursus bahasa asing lain selain Inggris enaknya bahasa apa ya?" Inggris udah belajar dari TK, Jerman udah waktu SMA walaupun lupa dikit tapi setidaknya udah pernah belajar lah, dan akhirnya tiba-tiba aku nyeletuk bilang "Russia gimana?" Semua pada diem.

Lalu si Dina tiba-tiba jawab "Aku punya temen lulusan sastra Russia" Aku langsung bilang "Serius, Din? Dia pun menganggukkan kepalanya. Akhirnya aku minta kontak temennya Dina dan langsung coba hubungin. FYI dia lebih tua 3 sampai 4 tahun dari aku. Setelah basa-basi aku ngomong kalo aku mau belajar bahasa Russia, dan akhirnya kami menentukan tempat belajar kami adalah di kosan Dina karena posisinya strategis, ehm, gak strategis juga sih karena dia rumahnya di Bogor dan aku di Jakarta Utara, sementara kosan Dina itu di Jakarta Timur. Tapi dia gak masalah, oh ya nama temennya Dina adalah Tyas, tapi aku manggilnya Kak Tyas karena lebih tua dariku.

Kita sepakat kalau mau belajar harus ngasi tau dulu soalnya Kak Tyas Senin sampe Jumat juga kerja jadi mesti janjian dulu kalau mau ngeles. Minggu pertama belajar Russia : Belajar Huruf. Ini huruf apa? Emang ada manusia yang bisa baca huruf kayak gini? Setelah 1 sesi belajar udah mulai me-lafal-kan beberapa tulisan dalam bahasa Russia. Yah lumayan buat newbie. Minggu kedua masih sama yaitu belajar hurufnya lagi, sambil coba ditulis dan ngarang beberapa kata atau kalimat trus diterjemahin hurufnya satu-satu ke huruf "Kiril".

Well, nampaknya aku mulai jatuh hati pada bahasa ini. Selain karena aksennya yang kedengaran aneh tapi asik kalo didengar, but mungkin untuk beberapa orang. Mungkin karena aku suka hal yang gak terlalu disukain banyak orang atau orang lain jarang ada yang memilihnya. I have my own style. Memilih belajar bahasa yang belum tentu bisa dapet pengajar yang enak dan klop. Oh ya, aku belajar sama Kak Tyas bersifat privat. Tapi bayarnya lebih murah karena kenal dengan teman semendiri. Dan dia baru pertama ngajar bahasa Russia kepada orang lain setelah lulus dari kuliah. Betapa beruntungnya aku, Alhamdulillah. Semuanya emang gak ada yang kebetulan. Asal ada kemauan pasti ada jalan.

Seperti sekarang, setelah mempelajari bahasanya aku berpikir kenapa gak coba tinggal disana. Apapun jalannya kalo emang niat dan berusaha kesana pasti jadi. But, jalan itu masih panjang. Ibarat bangun jalan ini masih merancang blueprintnya, masih gambar petanya, masih ngeliat dari udara, mempelajari tekstur tanah yang akan dibangun jalan nantinya. Ketika jalan ini sudah jadi maka jalan ini akan terhubung dengan jalan yang lain lagi yang bisa membawaku kemana saja. Karena jalan ini tidak ada ujungnya selama kita masih berusaha membuat jalan itu. Jalan itu terkadang bukan hanya jalan untuk kita. Terkadang kita harus berbagi jalan dengan orang lain, tidak masalah, karena dalam perjalanan pun kita terkadang butuh teman. Siapa yang tidak senang dalam perjalanan mempunyai teman? Apalagi kalau teman tersebut dapat memberi informasi yang berguna, kita bisa sharing, saling membantu dan mungkin, menjalin hubungan? :p

Minggu, 03 Februari 2013

Bingung mau ngasi judul apa

Well, tujuan postingan ini cuma pengen cerita tentang macem-macem hal yang aku lewatin selama dari aku terakhir nulis awal Desember lalu.
Selama ini aku lagi sibuk ngerjain tugas dan juga project buat UAS, jadi harap maklum yaa..
Ini juga ditulis pas lagi iseng gak ada kerjaan malam minggu yang hari Senin nya libur jadi gak terlalu dikejar sama jadwal UAS, aku ada UAS lagi hari Selasa, Rabu dan Kamis.

Kita balik ke Desember. Desember. Apa ya? Bulan terakhir dalam siklus kalender tahunan, dimana banyak orang yang merenung tentang apa yang sudah ia perbuat selama setahun ini, apakah kemajuan yang berarti atau kemunduran yang terus menerus atau tetap jalan ditempat layaknya senam pagi pas pelajaran olahraga? Setiap orang mempunyai pengalaman masing-masing pada tahun 2012 dan berusaha untuk meningkatkan apa yang perlu ditingkatkan, mengurangi apa yang perlu dikurangi dan masih banyak hal lain yang diharapkan orang di tahun berikutnya : 2013.

Akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013 bagiku adalah saat yang seru. Kenapa? Karena pada saat malam tahun baru semua orang di rumah bisa berkumpul bersama, meninggalkan berbagai aktifitas dan rutinitas yang menjemukan yang membuat diri kita seolah menjadi robot. Momen masak bersama, nonton tv, main kartu, main ps, ketawa-ketiwi, ngobrol ngalor-ngidul gak jelas sampe pagi adalah momen yang gak setiap hari kamu lewatin. Dan aku merasa sebagai anak perantauan yang tinggal jauh dari orangtua walaupun disini aku tinggal dengan keluarga juga (Bude) tapi tetap saja aku merindukan momen berkumpul bersama berempat. Ya, sebuah kombinasi mematikan dari kami berempat, hehehe..
Karena kewajibanlah aku tidak bisa melewati momen ini bersama mereka.

11 Januari Pakde San ulang tahun. Semua orang sibuk mempersiapkan kejutan untuk beliau. Beliau adalah sosok yang mempunyai kharisma yang tinggi khas seorang pemimpin, tegas tetapi mencintai kita semua. Beliau adalah orang yang keras, tapi dari sikap beliau yang keras itulah kami bisa mengerti bahwa beliau mencintai kita semua dan tidak mau terjadi sesutau kepada kita. Beliau begitu dihormati. Keluarga, karyawan pun sibuk mempersiapkan kejutan yang diadakan di kantor beliau di daerah Galur, Jakarta Pusat. Aku sendiri ikut turun tangan dalam hal ini, tapi tidak bisa membantu terlalu banyak karena aku tidak mau jika aku ikut turun tangan maka akan memperibet pekerjaan dari para karyawan tersebut. Jadinya aku datang pagi dan mengawasi bagian katering. Tapi sayangnya aku tidak bisa ikut acara ulang tahun di kantor hari itu, karena itu hari Jum'at dan aku kuliah dari jam 1 sampe jam 5. Yasudahlah. Ntar kan dirumah ketemu lagi buat ngucapin selamat ulang tahun beserta doa-doanya.

Januari adalah bulan yang hebring, sibuk, seru, banyak canda tawa, tapi juga menyisakan goresan di hati. Di bulan Januari aku jadi tau apa yang harus aku kejar untuk tahun ini. Goal-goal apa yang dari kemaren belum kesampean yang mungkin dikerjakan tahun ini akan aku kerjakan. Impian-impian tentang tempat-tempat yang pengen aku kunjungin semuanya sudah terbayang lengkap di kepala tinggal dieksekusi aja waktunya kapan.

Setahun ada 12 bulan. Telah kita lewati 1/12 nya. Masih ada 11 bulan berikutnya bagi kita untuk mencapai resolusi kita untuk tahun ini. Jangan biarkan diri kita bermalas-malasan untuk mengejar impian-impian kita. Karena kita hidup dari impian-impian kita. Jika kita tidak mempunyai impian maka kita akan mati. Teruslah belajar, belajar apapun, belajar yang tidak terpaku hanya pada satu jurusan yang kalian dalami saja tapi juga belajar untuk hidup di dunia yang terkadang baik dan terkadang jahat sama kita ini. Jangan lupa untuk bersyukur. Kita sering kali lupa untuk bersyukur, bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berika kepada kita berupa macam-macam yang kita tidak bisa sebutkan satu-persatu.

Semakin dewasa aku semakin sadar bahwa waktuku hidup di dunia  ini hanya sebentar. Sebentar lagi aku berumur 20 tahun. Dalam dekade ini mungkin akan banyak hal yang terjadi yang akan membawa perubahan yang besar dalam hidupku yang akan menentukan masa tuaku nanti. Lulus kuliah, pekerjaan, menikah, punya anak, punya cucu dan akhir tujuan hidup kita : kembali ke dalam tanah.
Semakin dewasa aku semakin sadar bahwa keluarga itu penting. Sudah tidak bisa melihat mereka setiap hari. Hanya bisa mendengar suara mereka seminggu sekali atau melalui video call yang terkadang koneksinya yang amburadul. Tapi, dari sini aku bisa menarik kesimpulan : semakin kita dewasa, semakin sayang kita kepada orang tua. Kita mulai mengerti peran dan tanggung jawab yang kita emban sekarang adalah proses untuk menjadi seperti mereka atau melebihi mereka agar kita bisa bersiap untuk mempunyai keturunan nanti.

Semakin dewasa juga semakin sadar bahwa sahabat adalah keluarga yang kita pilih. Mereka adalah seseorang yang berbeda bapak dan ibu tetapi kita mempunyai chemistry yang sama yang membuat kita bisa tetap klop selama bertahun-tahun. Masalah? Pasti ada. Tapi dengan kedewasaan kitalah yang membuat masalah itu cepat selesai dan tidak terlarut-larut. Sahabat. Bergantian kita menghina, mengolok, bercanda, berkelahi namun pada akhirnya kita akan kembali akur seperti tidak ada yang terjadi.

Tulisan ini adalah pemanasan awal tahun setelah gak nulis sebulan lebih. Eh, efeknya lumayan lho, jadi bisa ngetik cepet lagi, hehehe.. Postingan selanjutnya setelah ini mungkin akan postingan tentang jalan-jalan kayak biasa atau postingan renungan kayak gini. Yang mana pun kayaknya bukan masalah kan asal menarik untuk dibaca? :)

Ah tapi suka-suka ah, hidup itu gak seru tau kalo segala sesuatunya bisa diprediksi. Yasudahlah, tunggu saja kemunculan aku lagi di postingan berikutnya. See you around guuuyyyssss!!

Rabu, 05 Desember 2012

Ketika Agama Memisahkan Cinta Kita


Kau dan aku tahu, bahwa kita saling cinta.
Kau dan aku tahu, bahwa kita saling melindungi satu sama lain.
Kau dan aku tahu, bahwa kita mempunyai banyak mimpi untuk dijalani berdua.
Mereka pun tahu, kita pasangan romantis yang pernah mereka kenal.

Namun ada satu tembok besar penghalang cinta kita berdua. Agama. 
Aku Kristen dan kamu Islam. 
2 agama berbeda di dunia ini yang terkadang saling menghina di belakang layar konspirasi.
Apakah agama itu sekedar agama?
Ataukah itu merupakan cap kita tentang sebuah kepercayaan?
Atau itu sebuah alat untuk mempermainkan politik, ideologi, dan kekuasaan di dunia ini?
Atau hanya untuk sekedar mengisi kolom "AGAMA" di KTP?
Atau agama adalah jalan untuk bertemu dengan Tuhan?
Banyak pertanyaan yang mungkin terdengar sarkastik atau lucu lainnya. Tetapi masih belum bisa menjawab pertanyaan dalam benakku. "Apakah salah cinta dengan seseorang yang berbeda agama?"

Banyak sudah momen yang kita lewati bersama. Aku selalu menunggumu untuk Shalat Jum'at jika kita sedang bepergian pada hari Jum'at. Kau pun begitu, selalu mengantarkanku dan menungguku pergi ibadah di gereja setiap minggu pagi, lalu kemudian kau membawaku ke Taman Kalista untuk sarapan bubur ayam kesukaanku.

Tak jarang aku juga mengingatkanmu untuk Shalat jika sudah memasuki waktunya disamping untuk menanyakan kabarmu dan sedang apa. Aku sudah hapal jadwal Shalat lima waktu. Kau yang selalu membangunkanku jam 5 pagi lewat deringan telepon pada handphoneku setelah kau Shalat subuh. Membuatku tidak bisa tidur lagi dan memaksaku untuk segera bergegas bersiap untuk berangkat kerja. 

Umur cinta kita pun sudah tidak bisa dibilang muda. Sudah saatnya mungkin melanjutkannya ke jenjang yang lebih sulit dan penuh tantangan : pernikahan.

Pernikahan adalah salah satu mimpi kita yang sering kita impikan bersama, membayangkan bagaimana kisah kita akan bermula dan berakhir. Membayangkan bagaimana rasanya kita akan mempunyai anak dan kemudian pada tahap selanjutnya akan mempunyai cucu. Ah indah sekali. Mungkin itu cuma mimpi. Tapi mimpi tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Mimpi itu masih menjadi mimpi sebelum tembok itu kembali menghalangi.

Orang tuaku dan orang tuamu tidak setuju kita untuk menikah. Alasan mereka : apa kata orang kalo kamu nikah sama orang yang beda agama? Klise. Ingin rasanya aku memberontak untuk memberi tahu bahwa pikiran seperti itu kolot. Kemudian aku bercerita kepadanya dan ia pun juga mengutarakan hal yang sama. Kami pun memutar otak, memeras hati dalam menghadapi ini.

Kita tidak bisa begini terus menerus. Harus diakhiri atau dilanjutkan. Sial! Mimpi burukku sekarang menjadi kenyataan. Tapi masalah harus dihadapi dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Kemudian aku bercerita kepada sahabat-sahabatku tentang permasalahan yang sedang aku hadapi. Ada yang pro ada yang kontra. Wajar. Ini merupakan masalah yang menyangkut kehidupanku, kehidupannya, keluargaku dan keluarganya. Banyak pihak yang terlibat di sini apabila ini benar-benar terjadi. 

Suatu malam aku merenung dan bertanya kepada diriku sendiri. Mengapa aku harus menghadapi masalah seperti ini. Apakah mungkin ini sebuah cobaan yang mungkin bisa merubah diriku sepenuhnya? Apakah ini rintangan berupa kerikil kecil atau batu gunung yang besar yang menghalangi perjalananku? Salahkah aku mencintai seseorang yang berbeda agama dariku? 

Bukankah inti dari semua agama itu sama, yaitu mengajarkan kebaikan. Aku tak pernah melihat di kitab suci manapun yang mengajarkan keburukan. Kita semua diciptakan oleh Tuhan. Seharusnya deangan berbagai cara apapun kita bisa kembali lagi ke Tuhan dengan cara apapun. Bukankah setiap dari kita punya hak untuk itu? Mengapa masih ada yang menghalangi seolah sekat-sekat yang justru aku merasa sebagai pemicu perkelahian diantara semua agama. Merasa paling benar, kalau tidak mengikutinya berarti salah dan sesat. Sejak kapan ada rumusan seperti itu? 

Aku membayangkan seandainya keluargaku dan keluarganya dapat bersama-sama bergandengan tangan tanpa melihat adanya perbedaan diantara kami. Sebuah toleransi. Ya, kita butuh yang namanya toleransi. Toleransi beragama! Sama seperti yang sudah kulakukan selama ini. Apapun yang dia lakukan itu adalah kepercayaan dia, begitupun dengan aku. Kepercayaan kita mungkin berbeda, tetapi cinta kita, hati kita, impian kita satu. 

Aku membayangkan setiap Hari Raya Natal kau sekeluarga datang kerumah untuk sekedar bersilaturahim dan bertukar cerita canda dan tawa. Seakan tidak ada sekat yang memisahkan kita. Juga ketika Hari Raya Idul Fitri kami sekeluarga yang berkunjung ke rumahmu. Menyantap opor ayam, kue kering, minuman soda, madumongso kesukaanmu yang selalu tersedia setiap Lebaran dan selalu habis pertama karena kau memakannya seperti orang kelaparan.

Kemudian aku teringat sebuah perkataan teman yang dulu kita sering sharing sampai pagi membahas hal dari yang penting sampai yang tidak penting. Dia berkata bahwa Agama yang baik adalah agama yang bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Aku berpikir apakah aku harus pindah agama? Atau aku tetap pada agamaku dan dia tetap pada agamanya dan kami melanjutkan kisah ini?

Aku yakin semua kejadian ini tidak ada yang kebetulan. Semua ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Entah itu hikmah buruk atau baik. Entah itu bagiku atau bagi keluargaku atau keluargamu atau juga kau. 

Mungkin aku kurang beriman sehingga mendapatkan ujian seperti ini? Atau juga karena level keimananku sudah tinggi makanya aku diuji dengan level yang tinggi juga? 

Hidup ini penuh dengan konsekuensi atas pilihan kita. Konsekuensi terkadang ada yang bisa kita tanggung dan terkadang ada yang tidak. 

Pilihan juga merupakan salah satu dari perjalanan hidup kita. Setiap pilihan ibaratnya seperti percabangan jalan. Kanan dan kiri. Apapun yang kita ambil semuanya pasti akan berujung kepada sungai yang sama yang bernama kematian, yang merupakan tujuan akhir hidup kita. Kalau tujuan kita sama, asal kita berbeda tentu itu hal yang tidak perlu diperdebatkan, bukan?

Ketika agama memisahkan cinta kita. Ironis. 

Selasa, 04 Desember 2012

Pertemuan dan Perpisahan

Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap ada kelahiran pasti ada kematian. Setiap ada start pasti ada finish. Setiap ada mula pasti ada akhir. Intinya hidup ini merupakan siklus daripada semua itu.

Ada orang yang datang dalam kehidupan kita kemudian pergi begitu saja. Ada kedatangan yang diharapkan dan ada yang tidak. Ada akhir yang diharapkan dan ada yang tidak. Ada kelahiran yang tidak diharapkan dan kematian yang ditunggu. Ada juga kelahiran yang ditunggu dan kematian yang tidak diharapkan.

Berbicara tentang pertemuan dan perpisahan terkadang terdapat kenangan yang sulit dilupakan, apalagi jika kenangan itu kuat terpatri di pikiran kita. Entah itu kenangan yang menyenangkan atau yang menyedihkan.

Pertemuan adalah awal dari segalanya. Si A bertemu Si B. Kemudian mereka merangkai cerita dan berharap mereka akan membuat cerita bersama selamanya. Tapi apadaya, mereka harus berpisah lebih cepat. Si A pergi meninggalkan dunia ini lebih dulu karena sakit kanker yang dideritanya. Impian mereka untuk merangkai cerita selamanya pun sirna sudah. Si B pun terlarut dalam kesedihan dan merasa dunianya hancur sudah.

Tetapi perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Perpisahan justru mungkin awal dari segalanya. Suatu ketika, Si B bertemu dengan Si C. Awalnya Si B menganggap biasa saja karena dia masih belum bisa melupakan Si A. Tapi akhirnya mereka melebur juga dengan membuat cerita bersama. Si B dan Si C membuat cerita bersama, kembali merangkai mimpi-mimpi yang akan mereka wujudkan kelak. Mungkin kalau Si A bisa melihat keadaan Si B dia akan senang karena hidupnya tidak terpaku
pada satu titik dan terus melanjutkan hidup yang notabene merupakan siklus antara pertemuan dan perpisahan.

Terkadang kita menyambut pertemuan dengan sangat meriah, begitu juga dengan perpisahan. Tetapi
ada juga yang menyambut pertemuan dan perpisahan dengan tidak menarik. Tidak ada yang bisa
disalahkan, karena memang sudah hukum alam. Segala sesuatu pasti punya lawan kebalikannya.

Pertemuan bagiku hanya sekelebat hidup ini saja. Pertemuan itu hanya sebentar dan mungkin tidak
terasa. Yang berat adalah menjalani hidup setelah pertemuan itu dan bersiap menghadapi kenyataan bahwa sesungguhnya perpisahan itu adalah hal yang berat bagiku. Tapi, hidup harus terus berjalan. Dibalik perpisahan pasti ada pertemuan lainnya. Yah begitulah hidup ini. Penuh dengan siklus 
pertemuan dan perpisahan.

Perpisahan bagiku adalah yang terberat. Mungkin karena kita harus meninggalkan kebiasaan yang
sudah kita lakukan selama bertahun-tahun kemudian tiba-tiba hilang begitu saja pasti akan terasa
janggal bagi kita. Begitu juga dengan orang-orang terdekat kita. Akan sedih rasanya ketika kita
kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. Tapi, kembali lagi. Hidup ini soal siklus. Setiap ada
perpisahan pasti ada pertemuan. Mungkin kita akan bertemu kembali di alam sana. Who knows?

Sebisa mungkin ketika kita bertemu dan berpisah tidak ada dendam diantara kita. Semoga saja.

Senin, 03 Desember 2012

Iseng

Pernah iseng? Pasti pernah kan? Seru gak? Sakit gak? Asik kan? Mau lagi ya?

Dengan iseng terkadang kita menemukan hal baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh kita, serta terkadang mendapat pengalaman yang mungkin berguna bagi hidup kita.
Aku suka iseng. Dengan iseng aku dapat banyak pengalaman yang seru dan mungkin bisa menjadi salah satu pengalaman yang masih membekas dan entah itu baik atau buruk, bisa menjadi pelajaran bagi diri sendiri dan orang lain.

Dengan iseng aku lebih banyak melihat dunia ini dan lebih luas lagi, serta memperpanjang tali silaturahmi.
Dengan iseng aku jadi tau mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang tidak.
Dengan iseng aku jadi tau berbagai macam karakter orang dari iseng memperhatikannya.
Dengan iseng aku jadi bisa mandiri dan menemukan caraku sendiri untuk bertahan dalam kerasnya hidup ini.
Dengan iseng aku menemukan bahwa tidak setiap jalan itu buntu dan tidak semua juga tembus.
Dengan iseng aku menemukan orang yang pantas diberi standing applause dan juga yang patut diberi bogem mentah.
Dengan iseng aku mendapati bahwa laut memang benar-benar bisa menjadi mimpi buruk atau mungkin mimpi indah.
Dengan iseng aku mendapati gunung bisa menjadi sesuatu yang gagah dan anggun tetapi juga bisa membawa malapetaka ke dunia ini.
Dengan iseng aku menemukan potensi diriku yang sebelumnya tidak aku sadari dan pikirkan.
Banyak hal yang bisa aku dapat dari iseng.

Tapi suatu perbuatan yang menghasilkan banyak tentunya beresiko.
Tapi aku telah mengalami resiko itu dan itu tidak membuatku untuk berhenti berbuat iseng.
Iseng mungkin adalah nama tengahku? Entahlah. Yang jelas semua dari kita terlahir dengan bakat iseng dan ada yang mempergunakannya dengan baik dan ada yang tidak.

Selama iseng aku sudah pernah masuk rumah sakit bolak-balik, digigit anjing, pelipis kanan-kiri sobek, tangan kiri patah, gigi tanggal, dagu sobek, jantung (hampir) bocor, dikejar satpam, ditampar orang, dicaci maki bocah kecil, kehabisan uang, dorong motor 7 km, memecahkan gelas 1 rak dan masih banyak lagi.

Masih berani iseng, boy?

Lembaran Baru

Terkadang kita perlu untuk membuka Lembaran Baru. Bukan karena kisahnya sudah habis, tetapi untuk melanjutkan kisah itu sendiri.
Terkadang kita perlu untuk membuka Lembaran Baru. Karena kisahnya sudah berbeda dengan apa yang kita harapkan.
Terkadang kita perlu untuk membuka Lembaran Baru. Karena membawa kenangan yang buruk dan kita tidak ingin melanjutkannya.
Terkadang kita perlu untuk membuka Lembaran Baru. Hanya sekedar iseng, tetapi mungkin bisa menjadi kisah yang menarik.

Hidup ini terdiri atas Lembaran Kertas yang kita tulis sendiri. Terkadang kita menulis kenangan indah dengan tinta emas, kenangan buruk dengan darah mungkin, dan kenangan yang biasa-biasa saja dengan tinta.
Lembaran Kertas tiap orang tidak bisa sama, karena Lembaran itu mempunyai ciri khas sesuai dengan kita. Seperti halnya manusia, tidak ada satupun yang persis sama.
Kenangan yang tertulis di Lembaran bisa dibakar dengan perasaan sedih, senang, gembira, kecewa, dan lainnya. Tetapi bisa juga Lembaran itu dipajang dan membiarkan semua orang tau tentang Lembaran itu. Tidak masalah.

Terkadang Lembaran Baru adalah Harapan.
Terkadang Lembaran Baru adalah Kenangan.
Terkadang Lembaran Baru adalah Canda Tawa.
Terkadang Lembaran Baru adalah Air Mata.

Apapun tujuanku membuka Lembaran Baru kamu mungkin tidak perlu tau, atau mungkin kamu mau tau?

Membuka Lembaran Baru kadang semudah membalik telapak tangan.
Membuka Lembaran Baru kadang seperti membuka kaleng sarden.
Membuka Lembaran Baru kadang seperti membuka peti harta karun.
Membuka Lembaran Baru kadang seperti membuka botol minuman bersoda.

Lembaran Baru. Apa yang ada dalam pikiranmu saat mendengar kalimat itu? Apapun jawabanmu mungkin aku tak peduli, tetapi mungkin juga peduli. Tergantung apa yang digantung.

Lembaran Baru akan melanjutkan hidupmu, siapapun kamu.